“Blind Spot” di Ketinggian: Pelajaran Mahal tentang Navigasi Bisnis dari Tragedi Bulusaraung

Januari 2026 membawa kabar duka bagi dunia penerbangan Indonesia. Sebuah pesawat ATR 42-500 yang membawa misi penting—mengangkut pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan—berakhir tragis di lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Kronologi yang terungkap menyiratkan sebuah momen krusial. Saat mendekati tujuan di Makassar, pesawat dilaporkan keluar dari jalur pendaratan yang seharusnya (*Instrument Landing System*/ILS). Di tengah cuaca yang membatasi jarak pandang, pilot sempat meminta *direct track*—sebuah permintaan untuk memotong jalur langsung ke tujuan. Namun, posisi pesawat sudah terlalu jauh melenceng, melewati batas aman manuver, dan berada tepat di hadapan dinding tebing pegunungan karst yang kokoh.

Dalam dunia penerbangan, insiden seperti ini sering dikategorikan sebagai *Controlled Flight Into Terrain* (CFIT). Artinya, pesawat tersebut laik terbang, mesin berfungsi baik, dan pilot memegang kendali penuh hingga detik terakhir. Pesawat itu tidak jatuh karena rusak, melainkan karena diterbangkan secara sadar ke arah halangan yang tidak terlihat atau terlambat disadari.

Tragedi ini adalah metafora yang menyentak bagi para pemimpin perusahaan. Dalam dunia bisnis, banyak perusahaan besar yang “jatuh” bukan karena produknya rusak atau timnya tidak kompeten, melainkan karena mereka mengalami “Business CFIT”: menabrak *landscape* pasar yang keras karena gagal membaca navigasi.

Berikut adalah refleksi penting mengenai penguasaan *landscape* dan navigasi bisnis dari kejadian ini:

1. Bahaya Mengabaikan “ILS” Demi Shortcut

Pilot sempat meminta *direct track* untuk langsung menuju landasan. Dalam bisnis, ini adalah analogi dari keinginan mengambil jalan pintas demi mengejar target pendapatan atau peluncuran produk yang terburu-buru.

Setiap bisnis memiliki “ILS” (SOP, regulasi, etika, dan data pasar) yang dirancang untuk menuntun kita mendarat dengan selamat. Seringkali, CEO atau pendiri merasa percaya diri untuk keluar dari jalur panduan ini demi *growth* yang eksplosif. Namun, ketika Anda memotong jalur tanpa memahami apa yang ada di depan (apakah itu perubahan regulasi atau pergeseran perilaku konsumen), Anda sedang mempertaruhkan seluruh organisasi.

2. Membaca ‘Landscape’ di Tengah Kabut

Gunung Bulusaraung tidak “muncul tiba-tiba”. Ia sudah ada di sana selama ribuan tahun. Yang menjadi masalah adalah kabut yang menutupinya dan posisi pesawat yang salah.

Dalam bisnis, *landscape* (pesaing, kondisi ekonomi makro, disrupsi teknologi) adalah fakta yang keras dan tak kenal ampun, seperti tebing batu. Banyak bisnis hancur karena pemimpinnya “terbang buta”. Mereka tidak menyadari bahwa *landscape* telah berubah—bahwa ada “gunung” baru bernama kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, atau ketidakstabilan geopolitik—yang menghalangi jalur lama mereka. Penguasaan *landscape* bisnis berarti Anda tahu di mana letak bahaya, bahkan ketika “cuaca” ekonomi sedang buruk dan pandangan terbatas.

3. ‘Point of No Return’: Kapan Harus Membatalkan Manuver?

Laporan menyebutkan posisi pesawat sudah melewati batas aman saat manuver koreksi hendak dilakukan. Dalam strategi bisnis, ada titik di mana pivot atau perubahan arah sudah terlambat dilakukan.

Pemimpin bisnis sering kali menunda keputusan sulit. Mereka melihat indikator merah (penurunan *cash flow*, *churn rate* tinggi) tetapi tetap memaksa “terbang lurus” dengan harapan keadaan akan membaik. Navigasi bisnis yang hebat bukan hanya soal tahu ke mana harus pergi, tapi juga tahu kapan harus berkata “Abort Landing”—kapan harus membatalkan proyek, menutup divisi yang merugi, atau mundur selangkah untuk menghindari tabrakan fatal.

4. Ilusi Kendali (‘The Illusion of Control’)

Mengerikan menyadari bahwa dalam kasus CFIT, pilot merasa memegang kendali penuh. Tidak ada lampu peringatan mesin yang menyala.

Di korporasi, ini terlihat ketika laporan keuangan masih tampak hijau, tim masih sibuk bekerja, dan rapat-rapat berjalan lancar, padahal relevansi produk di pasar sedang menukik tajam (seperti kasus Nokia atau Kodak). Pemimpin bisnis tidak boleh terlena oleh operasional yang “terkendali” di dalam kabin kantor, sementara di luar jendela, perusahaan sedang melaju kencang menuju tebing kehancuran.

Kesimpulan
Jatuhnya ATR 42-500 di Bulusaraung mengajarkan kita bahwa mesin yang canggih (produk hebat) dan kru yang berpengalaman (tim ahli) tidak menjamin keselamatan jika navigator gagal membaca peta dan tidak mengetahui medan.

Bagi para *Business Leader*, pertanyaannya minggu ini adalah: Apakah Anda sedang terbang berdasarkan data instrumen yang akurat, atau sedang menerka-nerka di balik kabut? Dan yang paling penting, apakah Anda menyadari adanya “gunung” di depan sana sebelum semuanya terlambat!

Mari kita tundukkan kepala sejenak untuk para korban, sembari berjanji untuk memimpin “pesawat” kita dengan lebih waspada.

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Scroll to Top