Pernahkah Anda merasa bahwa mencari uang di era sekarang semakin sulit? Banyak orang mengeluh ekonomi sedang tidak baik-baik saja, lapangan kerja terbatas, dan persaingan semakin ketat. Namun, anehnya, ada segelintir orang yang justru merasa saat ini adalah momen termudah untuk menghasilkan uang.
Lantas, apa yang membedakan mereka yang kesulitan dengan mereka yang mendulang cuan? Apakah hanya sekadar keberuntungan? Dalam diskusi mendalam bersama Melvin Mumpuni, perencana keuangan dan pendiri Financialku, terungkap bahwa akar masalahnya bukan semata-mata pada ekonomi, melainkan pada program pikiran dan strategi kita,.
Daftar isi
Toggle1. Akar Masalah: “Mental Block” Sejak Kecil
Melvin mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan: keyakinan bahwa “cari uang itu susah” sering kali adalah hasil pemrograman ulang yang terjadi sejak kecil. Selama belasan tahun, mulai dari SD hingga kuliah, kita sering mendengar nasihat orang tua: “Jangan boros, cari duit itu susah!”.
Doktrin ini menempel di alam bawah sadar selama bertahun-tahun. Akibatnya, ketika lulus kuliah dan masuk dunia kerja, otak kita secara otomatis mencari pembenaran bahwa mencari nafkah itu memang sulit. Ini disebut sebagai mental block. Padahal, jika kita percaya Tuhan Maha Kaya dan Maha Baik, keyakinan bahwa rezeki itu sulit didapat adalah sebuah kontradiksi spiritual,.
Orang yang merasa cari uang itu mudah biasanya memiliki keunggulan dalam salah satu dari tiga hal: pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), atau jejaring (network). Jika Anda merasa sulit, tanyakan pada diri sendiri: area mana dari ketiga hal tersebut yang perlu Anda perbaiki? Apakah public speaking, personal branding, atau memperluas pergaulan?.
2. Jangan Hanya Ketuk Satu Pintu: Memahami 9 Sumber Penghasilan
Kesalahan terbesar banyak orang adalah merasa aman dengan satu sumber penghasilan, misalnya hanya dari gaji bulanan. Padahal, gaji itu tidak aman; pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa terjadi kapan saja.
Melvin membedah bahwa sebenarnya ada 9 pintu penghasilan yang bisa diakses, yang terbagi dalam tiga kategori besar:
- Active Income (Uang dari Bekerja):
- Earned Income: Gaji sebagai karyawan atau profesional (dokter, notaris).
- Trading: Berdagang barang/jasa (ada modal dan risiko rugi).
- Project: Penghasilan tambahan dari proyek sampingan (side hustle).
- Investment Income (Uang yang Bekerja):
- Capital Gain: Keuntungan dari kenaikan harga aset (misal: emas atau saham).
- Dividen: Bagi hasil keuntungan perusahaan.
- Bunga: Hasil dari deposito atau surat utang negara.
- Passive Income (Aset yang Bekerja):
- Sewa Aset: Menyewakan properti atau kendaraan.
- Royalti: Penghasilan dari karya intelektual (buku, musik) atau sistem bisnis berjenjang.
- Bisnis Franchise: Membeli sistem bisnis yang sudah berjalan (autopilot).
Sayangnya, kebanyakan orang hanya tahu dan mengandalkan satu atau dua pintu saja. Untuk mencapai keamanan finansial, kita harus belajar membuka pintu-pintu lainnya.
3. Jebakan “Cepat Kaya” vs “Pasti Kaya”
Di era media sosial, banyak anak muda (Generasi Z) terjebak fenomena ingin “cepat terlihat kaya”. Generasi ini sering tergiur jalan pintas melalui aset berisiko tinggi seperti kripto atau NFT tanpa pemahaman yang cukup,.
Melvin menyarankan untuk mengubah pola pikir dari “ingin cepat kaya” menjadi “ingin pasti kaya”. Aset-aset konvensional seperti emas dan saham perusahaan besar (blue chip) mungkin tidak membuat kaya dalam semalam, namun memiliki kepastian nilai jangka panjang yang lebih terukur,. Ingat, dalam investasi dan karir, fast growth sering kali berisiko tinggi; yang lebih penting adalah konsistensi dan daya tahan.
4. Kunci Era Digital: “Siapa Dekat, Dia Dapat”
Dulu, pepatah mengatakan “Siapa cepat, dia dapat”. Namun, fakta di lapangan saat ini berubah menjadi “Siapa dekat, dia dapat”.
Ini bukan berarti nepotisme negatif, melainkan kekuatan networking dan personal branding. Orang lebih suka bekerja sama dengan orang yang mereka kenal dan percayai. Namun, kedekatan saja tidak cukup. Anda harus memiliki kompetensi agar layak untuk didekati dan dipercaya. Kompetensi adalah tiket masuknya, sedangkan jejaring adalah pengungkitnya.
Kesimpulan
Mencari uang menjadi susah jika kita terus memelihara pola pikir lama dan hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. Di era digital yang dipenuhi teknologi AI dan informasi, peluang sebenarnya terbuka lebar bagi mereka yang mau belajar (learning agility), berpikir kritis, dan membangun jejaring. Mulailah dengan memperbaiki mindset, diversifikasi sumber penghasilan, dan perluas pergaulan Anda dengan kompetensi yang mumpuni.
